Thursday, June 21, 2012


TITRASI ASAM BASA-NEUTRALISASI

A.   TITRASI ASAM-BASA AIR
Titrasi Asam-Basa adalah penetapan kadar suatu zat (asam atau basa) berdasarkan atas reaksi Asam-Basa. Bila sebagai titran digunakan larutan baku asam, maka penetapan tersebut dinamakan ASIDIMETRI. Sebaliknya bila larutan baku basa sebagai titran, maka penetapan itu disebut ALKALIMETRI.
Teori Asam Basa
1.    Teori Arrhenius
Menurut Arrhenius, asam adalah suatu zat yang bila dilarutkan dalam air berdisosiasi menghasilkan ion hidrogen (H+) sebagai satu-satunya ion positif.
HCl H+ + Cl-
Basa adalah suatu zat yang bila dilarutkan dalam air berdisosiasi menghasilkan ion hidroksil   (OH-) sebagai satu-satunya ion negatif.
NaOH   Na+ + OH-
2.    Teori Bronsted Lowry
Teori ini merupakan teori umum dari asam dan basa, karena dapat diterapkan pada semua jenis pelarut, termasuk pelarut organik. Oleh karena itu teori ini merupakan dasar titrasi bebas air. Menurut teori ini, asam adalah suatu zat yang cenderung untuk melepaskan porton (donor proton), sedangkan basa cenderung unutk mengikat proton (akseptor proton).
Dengan demikian, maka dalam teori asam basa Bronsted dan Lowry dikenal ada istilah asam-basa terkonjugasi (pasangan asam-basa).
Contoh :
HCl + HF  Cl- + H2F+
Asam basa konjugasi               : HCl dengan Cl-
                                                      HF dengan H2F+
Senyawa bersifat asam              : HCl dan H2F+ (HCl memberikan H+ ke HF dan H2F+memberikan H+  ke Cl-)
Senyawa bersifat basa               : HF dan Cl-  (HF menerima H+  dari HCl dan Cl-     menerima H+  dari H2F+)     
Menurut teori bronsted lowry, proton berperan penting dalam  setiap reaksi asam-basa. Proton juga menentukan sifat asam-basa senyawa-senyawa. Oleh karena itu teori ini disebut juga teori proton. 


Bobot Ekivalen
Bobot ekivalen suatu zat pada reaksi asam basa adalah banyakna mol zat itu yan ekivalen dengan 1 mol H+ atau 1 mol OH-
Indikator asam-Basa
Indikator asam basa adalah asam aau dasa organik lemah yang mempunyai warna molekul (warna asam) berbeda dengan warna ionnya (warna basa).
HIn      H+   +  In-
       Warna molekul        warna ion
Pada contoh di atas, warna molekul lebih kuat dalam suasana asam, sedangkan warna ion lebih kuat dalam suasana basa, yaitu bila indikator dinetralkan.
Pada pH tertentu, dimana kedua bentuk ada dalam jumlah yang hampir sama, maka akan terjadi warna kombinasi dari warna molekul dan warna ionnya. Daerah transisi dari perubahan warna indikator meliputi lebih kurang 2 unit pH dan daerah ini disebut trayek pH.
Beberapa contoh indikator asam basa beserta trayek pH dan perubahan warnanya dapat dilihat pada table berikut :
Indikator
trayek pH
Warna asam HIn
warna basa In
pKIn
Biru bromfenol
3,0 -4,6
kuning
biru
4,1
Biru bromtimol
6,0 – 7,6
kuning
biru
7,1
Biru fenol
1,2 – 2,8
merah
kuning
1,7
Biru timol
8,0 – 9,6
kuning
biru
8,9
Fenolftalein
8,3 – 10,5
Tak berwarna
Merah jambu
9,3
Jingga metal
3,1 – 4,4
merah
jingga
3,7
Lakmus
6,0 – 8,0
merah
biru
----
Merah fenol
6,8 – 8,4
kuning
merah
7,8
Merah metal
4,2 – 6,3
merah
kuning
5,0
Pemilihan indikator
Pemilihan indikator ditentukan oleh pH larutan pada titik ekivalen. Pada titrasi asam lemah dengan basa kuat, maka pH larutan pada titik ekivalen diatas 7 (misalkan pH = 9), maka indikator yang dapat dipakai adalah biu timil atau fenolftalein. Indikator ini biasanya digunakan hanya beberapa tetes sebagai larutan dalam air atau alkohol (70 % - 90%  h/v) dengan kadar 0,05 – 0,1 %.
Sebaliknya pada titrasi basa lemah dengan asam kuat, maka pH larutan pada titik ekivalen di bawah 7 (misalkan pH = 4), maka indikator yang dapat digunakan adalah biru bromfenol atau jingga metil.
Larutan titer asam
1.    Pembuatan
Sebagai titran biasanya digunakan asam klorida, kadang-kadang digunakan  asam sulfat atau asam perklorat.  Larutan baku dapat dibuat dengan menimbang seksama sejumlah asam klorida bertitik didih tetap, lalu diencerkan hingga volume tertentu.
2.    Pembakuan
Untuk pembakuan larutan titer asam, biasanya digunakan natrium karbonat anhidrat. Disamping itu  dapat juga digunakan natrium tetraborat dekahidrat. Bila tersedia larutan basa yang telah  dibakukan, maka larutan ini juga digunakan untuk membakukan larutan titer asam.
Menurut Farmakope Indonesia edisi III, larutan titer asam klorida dibakukan dengan natrium karbonat anhidrat yang telah dikeringkan pada suhu 2700C selama 1 jam menggunakan indikator metil merah. Titrasi dilakukan dengan mendidihkan larutan untuk menghilangkan gas CO2 yang terbentuk hingga warna indikator berubah dari kuning menjadi merah jambu pucat. Setelah dingin, titrasi dilanjutkan lagi hingga warna merah jambu pucat tidak hilang dengan pendidihan.
Larutan titer basa
1.    Pembuatan
Basa kuat mudah menyerap CO2 dari udara, sehingga selalu dikotori dengan karbonat. Untuk itu perlu diperhatikan dalam pembuatan larutannya.
Larutan NaOH bebas karbonat dapat dibuat dengan mencuci butiran natrium hidroksida P dengan air untukmmenghilangkan lapisan karbonat sebelum dilarutkan. Cara klasik yang lebih disukai adalah dengan mula-mula membuat larutan pekat (50 bagian natrium hidroksida dalam 50 bagian air) dimana natrium karbonat tidak larut.
Sebagian beningan atas atau filtrat yang diperoleh dengan penyaringan vakum melalui penyaringan kaca masir dipakai untuk membuat larutan encer. Cara yang lebih praktis adalah dengan menggunakan larutan natrium hidroksida 50% P dengan kadar karbonat rendah yang tersedia dalam botol polietilen.
Menurut Farmakope Indonesia, pada pembuatan larutan NaOH 0,1 N, karbonat dibebaskan dengan menggunakan larutan natrium hidroksida segar dan beningan dienap tuangkan  (didekantasi) atau disaring dengan larutan dibiarkan semalam dalam botol bersumbat. Untuk membuat larutan NaOH 0,1 N digunakan 15 g natrium hidroksida P dalam 950 ml air.
2.    Pembakuan
Baku primer yang paling sering digunakan untuk pembakuan basa adalah kalium bifatalat karena stabil, tahan panas ( sampai 1300C ) dan tidak hidroskopik. Disamping itu dapat juga digunakan asam sulfamat. Kalium biftalat adalah garam asam dari asam bivalen. Pada reaksi pembakuan basa, kalium biftalat berfungsi sebagai asam monovalen (BE = 1 mol).
3.    Penyimpanan
Larutan titer basa disimpan dalam wadah teetutup kedap, untuk menghindari pengaruh udara, misalnya CO2,. Oleh karena basa bereaksi dengan gelas, maka larutan basa lebih baik disimpan dalam wadah plastik (polietilen).  Namun demikian bila tidak disimpan lama, wadah gelas masih dapat dipakai dan dianjurkan yang tertutup plastik, karena tutup gelas lebih sukar dibuka.
Menurut Farmakope Indonesia, larutan harus disimpan dalam botol tertutup rapat yang dilengkapi demgan tabung yang diisi  campuran natrium hidroksida P dan kalium hidroksida P (soda api). Larutan harus dibakukan kembali

Kurva Titrasi

Dalam menguji suatu reaksi untuk menentukan bisa atau tidaknya reaksi tersebut digunakan untuk titrasi, kita perlu membuat suatu kurva titrasi. Untuk reaksi asam basa, suatu kurva titrasi terdiri dari suatu plot pH atau pOH vs mililiter titran. Kurva  tersebut berguna dalam menentukan kelayakan suatu titrasi dan dalam memilih indikator yang sesuai. Kita akan menguji dua kasus, titrasi asam kuat dengan basa kuat dan titrasi asam lemah dengan basa kuat.
Gambar 1. Kurva titrasi asam kuat- basa kuat  9 larutan HCl 0,1 m dengan larutan baku NaOH 0,1 M

Gambar.2. kurva titrasi larutan CH3COOH 0,1 M larutan baku NaOH, dibuat dengan bantuan bagan LK.

B.   TITRASI BEBAS AIR
Titrasi Bebas air atau Titrasi Non-Aqua adalah titrasi yang menggunakan pelarut organik sebagai pengganti air. Dengan pelarut organik tertentu, kekuatan asam atau basa lemah dapat diperbesar sehingga memungkinkan suatu titrasi yang tidak memuaskan dalam pelarut air. Dibidang  farmasi teknik kini banyak dipakai karena banyak obat bersifat asam atau basa lemah yang sukar larut dalam air. Dengan memilih pelarut yang tepat, penetapan kadar dari komponen campuran asam atau basa juga dimungkinkan.
Sifat Asam-Basa
Teori asam-basa dari Arrhenius  ternyata tidak berhasil menjelaskan sifat karakteristik dari asam dan basa  dalam pelarut organik. Dalam hal ini, teori yang umum telah dikemukakan oleh bronsted. Menurut teori ini, asam adalah pemberi proton, sedangkan basa adalah penerima proton.
HB          H+    +      B-
asam           proton        basa
Pada reaksi diatas, ion B- adalah basa konjugasi dari asam HB dan sebaliknya asam HB adalah basa konjugasi  dari basa B-. Reaksi tersebut semata-mata dimaksudkan untuk menjelaskan definisi dari asam dan basa, dan bukan merupakan reaksi yang sesungguhnya. Reaksi tersebut baru bisa berlangsung ke kanan apabila ada yang menerima protonnya.
Kekuatan suatu asam disamping ditentukan oleh potensi dari asam itu untuk melepaskan proton, tetapi juga tergantung dari kekuatan basa yang akan menerima protonnya. Jadi, asam lemah akan menjadi lebih kuat bila direaksikan dengan basa yang lebih kuat. Misalnya, asam asetat akan menjadi lebih kuat dalam amonia lebih kuat dari air.
Dalam urutan berikut, sifat asam dari pelarut berkurang ke kanan dan akhirnya sifat basa bertambah.
HClO4    HBr   H2SO4  HCl    HNO3    CH3COOH  fenol  air  piridin
Dalam urutan tersebut, air lebih bersifat basa daripada asam asetat. Karena itu asam-asam mineral lebih mudah memberikan proton kepada air daripada asam asetat. Dalam hal ini kekuatan asam-asam mineral  terhadap air boleh dikatakan sama, sehingga air dikatakan “leveling” bagi asam-asam tersebut.  Dalam asam asetat kekuatan asam-asam mineral tersebut ternyata  dapat dibedakan sesuai dengan urutan tersebut diatas asam perklorat adalah yang paling kuat. Dalam hal ini asam asetat dikatakan sebagai “ differentiating solvent” bagi asam-asam  tersebut.  Dengan demikian, maka asam perklorat adalah titran yang paling baik pada titrasi bebas air.
Pelarut
Seperti  telah iuraikan diatas, kekuatan asam dan basa ditentukan pula oleh kemampuan pelarut untuk menerima dan melepaskan proton. Berdasarkan hal ini maka pelarut dapat dibedakan menjadi :
1.    Pelarut protogenik, adalah pelarut yang mudah memberikan proton. 
Misalnya : asam-asam.
2.    Pelarut protofilik, adalah pelarut yang mudah menerima proton.
Misalnya : basa-basa, eter, keton.
3.    Pelarut amfiprotik, adalah pelarut yang dapat menerima maupun memberikan proton.
Misalnya :  air, asam asetat, alkohol.
4.    Pelarut aprotik, adalah pelarut yang tidak dapat menerima maupun memberikan proton.
         Misalnya : kloroform, benzen, dioksan.
Pemilihan pelarut
Dalam memilih pelarut, ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:
  1. Sifat asam-basa dari pelarut. Untuk menitrasi basa lemah, maka dipilih pelarut yang lebih
bersifat asam,dan demikian pula sebaliknya. Misalnya, pada titrasi basa lemah, asam asetat lebih baik daripada air.
  1. Tetapan autoprotolisis
  2. Tetapan dielektrik
Indikator
Penetapan titik akhir pada titrasi bebas air, dapat dilakukan dengan penambahan indikator atau lebiuh disukai cara potensiometrik.
Perubahan warna indikator dalam pelarut organik berbeda dengan perubahannya dalam pelarut air. Hal ini disebabkan antara lain karena pelarut organik mempunyai tetapan dielektrik yang lebih kecil daripada air. Hal ini mengakibatkan indikator asam basa yang cocok unutk titrasi dengan pelarut air belum tentu baik untuk titrai bebas air.
2.    Alkalimetri
Senyawa yang dapat dititrasi dengan asam antara lain; asam halida, anhidrida asam, asam karboksilat, asam amino, dan senyawa fenol seperti barbiturat dan santin, imida, Fenol pirol dan sulfanomida.

Prinsip Penetapan

Zat uji dilarutkan dalam pelarut yang cocok, kemudian dititrasi dengan larutan alkali metoksida dalam wadah yang bebas CO2 dari udara,menggunakan indikator atau pasangan elektroda yang cocok untuk menetapkan titik akhir ekivalen. Pengaruh CO2 dapat dikoreksi dengan melakukan titrasi blangko.
Reaksi yang terjadi, secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut :
1.    Asam   :  HA  +  CH3ONa        ANa   +   CH3OH
2.    Basa    : -CH=COH-   +   CH3ONa         -CH=CONa-   +    CH3OH

Larutan Titer

Ada dua golongan titran untuk titrasi, yaitu alkali metoksida dan tetraalkilamonium hidroksida. Larutan yang paling sering digunakan adalah larutan natrium metoksida dalam campuran metanol-benzen. Untuk senyawa yang membentuk endapan gelatinous dengan natrium metoksida, maka digunakan larutan lithium metoksida dalam pelarut campuran metanol-benzen.
3.    Asidimetri
Senyawa-senyawa yang dapat dititrasi sebagai basa antara lain:
1.    Garam organik dari logam alkali atau alkali tanah, misalnya kalium hidrogenftalat, natrium siklamat.
2.    Senyawa Amin primer, sekunder maupun tersier.
3.    Garam halida basa organik. Misalnya : Klorpromazin HCl, Klordiazepoksid HCl..
Prinsip Penetapan
Zat uji dilarutkan dengan pelarut yang cocok, lalu dititrasi dengan larutan titer asam perklorat dalam asam asetat glasial dan titik ekivalen ditetapkan dengan penambahan indikator atau secara potensiometrik.
Secara singkat reaksi yang terjadi dapat digambarkan sebagai berikut ;
1.    Garam organik   :   RCOOK  +  HClO4            RCOOH   +   KCLO4
2.    Amin Primer       :   RNH2   +   HClO4             RNH3   +   CLO4
3.    Garam Halida
Ion klorida, bromida dan iodida merupakan basa yang sangat lemah, sehingga tidak dapat bereaksi secara kuantitatif dengan asam perklorat. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan raksa (II) asetat.Garam ini dengan ion halida akan melepaskan ion asetat yang berfungsi sebagai asam kuat.
2 RNH2. HCl           2 RNH3+     +   2Cl-
Hg (CH3COO)2     +    2Cl-         HgCl2    +   2 CH3COO-
2 HClO4    +   2 CH3COOH          2 CH3COOH2+   +   2 ClO4-
    2 RNH2.HCl + Hg(CH3COO)2 + 2HClO4        2 RNH3 +2ClO4 + HgCl2 + 2CH3COOH
Larutan titer
Untuk titrasi basa umunya digunakan larutan titer asam perklorat dalam asam asetat, dan dalam kasus tertentu digunakan larutan asam perklorat dalam dioksan.

C.  TITRASI PROTOLIT KUAT
Protolit kuat mengalami reaksi alih proton yang sempurna dalam air yang menyebabkan terbentuknya ion hidronium dan ion hidroksida. Reaksinya seperti berikut :

Asam  +  H2O      basa   +  H3O-
Basa    +   H2O      asam   +  OH-
Titrasi protolit kuat dapat disingkat menjadiinteraksi antara ion hidronium dan ion hidroksida sebagai berikut :
H3O+   +  OH-     H2O   +   H2O
Jalannya titrasi secara teoritis dihitung dari persamaan  kesetimbangan massa  dan  tetapan kesetimbangn.caranya akan dilukiskan dengan membuat kurva teoritis untuk titrasi HCl 0,1 M dengan larutan baku NaOH.
Gambar 3. Kurva titrasi asam kuat- basa kuat  9 larutan HCl 0,1 m dengan larutan baku NaOH 0,1 M
Dari gambar itu terlihat bahwa pada permulaan titrasi, pH berubah secara perlahan – lahan. Ini karena pelarutnya sendiri (air) yang bertindak sebagai protolit, yang menimbulkan kerja penyangga oleh pasangan asam basa H3O+ / H2O. Daerah yang diarsir merupakan rentang dimana ketiga indikator visual berubah warna. Nampaknya saat asam kuat dititrasi, penambahan pH yang besar pada titik ekivalen cukup untuk melebarkan rentang dari ketiga indikator. Oleh karena itu tiap-tiap indikator ini akan berubah warna dengan satu atau dua tetes pada titik ekivalen.
Kurva titrasi untuk basa kuat yang dititrasi dengan asa kuat, misalnya NaOH dengan HCl, akan sama persis dengan kurva dalam Gambar.1 jika pOH diplot vs volume HCl. Jika pH diplot, kurva dalam Gambar.1 hanya dibalik, dimulai dari nilai yang tinggi dan menurun hingga pH yang rendah  setelah titik ekivalen.

D.  TITRASI PROTOLIT LEMAH
Titrasi protolit lemah lebih sulit dan lebih rumit daripada titrasi protolit kuat. Daerah kesetaraannya jauh lebih sempit, sehingga persyaratan titrasi hanya dapat dilihat secara tepat dari kurva teoritis.
Titrasi asam asetat dengan larutan baku NaOH berlangsung sesuai dengan persamaan reaksi berikut :
CH3COOH   +   OH-    =   CH3COO-   +   H2O
Perubahan pH yang tajam terlihat di sekitar titik kesetaraan seperti terlihat pada Gambar.2.
Asam asetat merupakan salah satu contoh protolit lemah yang kesetimbangn asam basanya ditentukan oleh tetapan protolisisnya. Karena itu bentuk kurva titrasinya sangat bergantung pada tetapan titik ini. Titik-titik khas kurva titrasinya mudah  ditentukan dari bagan LK.
Gambar 4. kurva titrasi larutan CH3COOH 0,1 M larutan baku NaOH, dibuat dengan bantuan bagan LK.
Pembuatan kurva titrasi untuk basa lemah pada dasarnya tidak berbeda dengan cara diatas, namun harus diingat bahwa bagan LK dibuat berdasarkan harga pKa, yakni tetapan asam pasangan dari basa itu. Gambar 4 memberikan kurva titrasi  larutan NH3 0,1 M dengan larutan baku HCl.
Gambar 4. Bagan LK dan kurva titrasi larutan NH3 0,1 M dengan larutan baku HCl.
Dalam titrasi protolit lemah, penyempitan daerah kesetaraan hanya timbul pada posisi protolit kuatnya. Hal ini mudah dipahami jika diingat bahwa pada tiytrasi 50 % larutan itu memiliki kerja penyangga, dan pHnya tidak dipengaruhi oleh pengenceran. Dalam hal ini bentuk kurva titrasi tidak bergantung pada kepekatan awal protolit.

E.  TITRASI ASAM DAN BASA BAHU PROTON
Bila ada dua pasang atau lebih asam basa berpasangan dalam sistem, maka penghitungan kepeketan kesetimbangan akan menjadi sangat sulit. Jika tetapan-tetapan protolisis asam dan basa bahuproton yang berurutan cukup berbeda satu sama lain, maka asam-asam bahuproton itu, misalnya H3PO4, dianggap sebagai campuran semolar beberapa pasang asam basa berpasangan , yang mempunyai kekuatan berbeda-beda. Dalam hal seperti itu, kurva titrasi asam bahuproton dibuat dengan mendempetkan kurva-kurva titrasi nmasing-masing pasangan asam basa itu.  Untuk  H3PO4, pasangan –pasangan asam basa yang akan diperhitungkan adalah H3PO4/ H2PO4-, H2PO4- / HPO42-, HPO42- / PO43-. Titrasi H3PO4  dengan larutan baku NaOH berlangsung menurut persamaan reaksi berikut :
H3PO4  +  OH-   =  H2PO4-   +  H2O        pKa1 = 2,1
H2PO4-  +  OH-   =  HPO42-  +  H2O         pKa2 = 7,2
HPO42-    +  OH-   =  PO43-   +  H2O         pKa3 = 12,4
Kurva titrasi larutan H3PO4 0,1 m yang dibuat dengan bantuan bagan LK, disajikan dalam Gambar 5.
Gambar 5. Kurva titrasi larutan H3PO4 0.1 M dengan larutan baku NaOH.
                Keterangan : TP = Timolftalein
                                 HBK = Hijau Bromokresol
Dari kurva titrasi yang disajikan itu, terlihat bahwa penentuan H3PO4 tidak begitu teliti 9 ketelitian tidak lebih dari ± 1%). Seperti terlihat pada gambar itu, titik kesetaraan pertama diamati dengan Hijau Bromokresol sebagai indikator, sedangkan titik kesetaraan kedua dengan Timolftalein.
Titrasi Na2CO3 dengan larutan baku HCl dapat diambil sebagai contoh penentuan basa bahuproton. Reaksi berikut terjadi dalam titrasi tersebut :
CO32-  +  H3O+   =  HCO3-   +  H2O         pKa2 = 10,3
HCO3- +  H3O+   =  H2CO3   +  H2O          pKa1 = 6,3
Kurva titrasi larutan Na2CO3 0,1 M dengan larutan baku HCl diperlihatkan dalam Gambar 6.
Gambar 6.  Kurva titrasi larutan Na2CO3 0,1 M dengan larutan baku HCl
                      keterangan : FF = fenolftalein
                                   MM = Merah Metil
                                   JM = Jingga Metil
Kurva ini mempunyai dua lompatan pH, yang bersesuaian dengan pengikatan proton pertama dan kedua oleh anion CO32-. Daerah kesetaraan pertama dari kurva itu tidak begitu tajam untuk pemeriksaan yang teliti. Seperti terlihat dari gambar itu, penentuan karbonat dengan fenolftalein sebagai indikator mempunyai kesalahan lebih besar daripada  ± 1%. Daerah kesetaraan kedua lebih panjang dan pemakaian  jingga metil sebagai indikator memberikan ketelitian ±  1%. Selain itu, kadar  karbonat dapat ditentukan dengan teliti, jika larutan dididihkan setelah kesetaraan kedua dilewati, sampai CO2 yang terbentuk Pada pendidihan itu terjadi reaksi sebagai berikut :
H3CO3     H2O  + CO2

Denfan cara diatas, ketelitian titrasi bertambah karena dengan pendidihan titrasi tersebut sama efektifnya dengan titrasi protolit kuat. Dalam Gambar 6, perubahan pH yang disebabkan oleh pendidihan larutan diperlihatkan dengan garis putus-putus.

F. TITRASI CAMPURAN PROTOLIT
Pada dasarnya titrasi campuran protolit tidak berbada dari titrasi asam dan basa bahuproton. Sebagai contoh titrasi campuran protolit yang sering dijumpai adalah titrasi campuran larutan Na2CO3 0,1 M dan NaOH 0,1 M dengan  larutan baku HCl. Kurva titrasi teoritis untuk titrasi campuran ini diperlihatkan dalam Gambar 7. sedangkan reaksi penetralannya  dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut :
OH-  +  H3O+   =   H2O   +   H2O
CO32-  +  H3O+  =  HCO3-  +  H2O
HCO3-  +  H3O+  =  H2CO3  +  H2O
Gambar 7. Kurva titrasi campuran  Na2CO3 0,1 M dan NaOH 0,1 M dengan  larutan baku HCl
                 Keterangan : FF = fenolftalein                          
                                   JM = Jingga Metil

Dari Gambar 7, titik kesetaraan pertama tidak bisa ditaksir karena tidak adanya lompatan pH, tetapi titik kesetaraan kedua dapat ditentukan dengan bantuan fenolftalein sebagai indikator. Namun kesalahan masih lebih besar daripada ± 1%.  Volume V1 bersesuaian dengan titrasi seluruh ion hidroksida dan separuh ion karbonat. Setelah larutan hilang warnanya titrasi dapat dilanjutkan sampai titik kesetaraan ketiga, dengan jingga metil sebagai indikator,  (atau setelah didinginkan , dengan merah metil sebagai indikator). Volume V2 dari Gambar 6 bersesuaian dengan titrasi separo kedua dari ion karbonat, karena itu kadar ion karbonat dihitung dari V2, dan ion hidroksida dari (V1 – V2). Ini merupakan intisari dari  Metode Warder untuk pemeriksaan campuran natrium hidroksida dan natrium karbonat.

Bahan Rujukan
Day, R.A & A.L. Underwood. 2002. Analisis Kimia kuantitatif edisi keenam. Jakarta : Erlangga.
Enawaty, Eny. 2000. Buku ajar kimia Dasar II. Pontianak : Universitas Tanjungpura.
Rivai, Harrizul. 1994. Asas pemeriksaan kimia. Jakarta : UIP.
Santoso, Iman,N. 1994. Ilmu Kimia Teori jilid III. Jakarta : Dinas Kesehatan.
Treadwell & Hall. 1937. Analytical chemistry Volume I Quantitative 9th edition. Massachusetts : Massachusetts Institute of Technology.
Vogel. 1979.  Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro edisi kelima bagian I. Jakarta : PT Kalman  Media Pustaka. s


Tulisan ini hanya dapat dijadikan referensi buat Anda.
Anda tidak diperkenankan menjadikan tulisan ini sebagai tugas kuliah/terstruktur.
© 2006
Rhyno Safryzal
Pend. Kimia
Universitas Tanjungpura
Pontianak
Email: rhyn_x19@yahoo.com

 “Mohon dipergunakan sebagaiman

No comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls